CHINA

PENINDASAN AGAMA DI CHINA

Gereja diruntuhkan pada bulan Juni lalu, baru dua minggu selesai dibangun

(Epochtimes.co.id)

CHINA _ Penindasan ternyata tidak hanya dialami oleh praktisi Falun Gong, kaum rohaniawan gerejapun mengalami nasib serupa di China. Puluhan pastur ditangkap, dan gereja-gereja dirusak dengan alasan ilegal.

Satu lagi wajah asli pemerintah China terkuak. Sekitar 12 pastur dan seminaris yang sedang menjalani retret di Shijiazhung, Provinsi Hebei wilayah China bagian utara, ditangkap. Alasannya sangat klasik, pertemuan rohaniawan itu dinyatakan ilegal.

Kejadian diawali oleh adanya kegiatan retret pada hari Senin ( 20/10/ 2003) yang digelar di Desa Gaocheng, Shijiazhung. Retret atau khaluat dikenal dalam agama Katholik sebagai salah satu kegiatan yang lebih dimaksudkan untuk membersihkan diri. Kegiatan retret umumnya dilakukan dengan cara mengundurkan diri dari keramaian dunia sehingga mendapatkan ketenangan batin. Dengan cara seperti ini diharapkan bisa membuat umat Katholik lebih bisa mendekatkan diri kepada Tuhan.

Retret dihadiri oleh para pastur, seminaris dan beberapa umat Katholik lainnya. Saat acara digelar, tiba-tiba saja beberapa polisi menggerebek tempat tersebut serta menangkap siapapun yang berada di tempat itu. Mereka yang tertangkap dan ditahan di rumah tahanan Gaocheng di antaranya adalah pastur Li Wenfeng (31), Liu Heng (29), Dou Shengxia (37), Frater Chen Rongfu (21), Han Jianlu (24), dan Zhang Chongyou (23). Salah satu staf di tempat penahanan menyatakan bahwa mereka dikenai tuduhan telah mengadakan pertemuan ilegal.

“Sekitar tujuh orang di antara mereka telah ditahan di tempat tersebut selama tujuh hari, dan tidak diketahui kapan mereka akan dilepas,” katanya.

Tidak hanya penangkapan, belum lama ini sebuah gereja Katholik di Desa Liugou, Hebei juga dihancurkan. Pejabat kota Shahe menegaskan, gereja diruntuhkan pada bulan Juni lalu, baru dua minggu selesai dibangun. Lagi-lagi alasannya, mereka tidak memiliki izin melakukan kegiatan agama dan tidak memiliki surat izin mendirikan bangunan. Padahal menurut pihak gereja, ada sekitar 150 umat Katholik baru yang menjadi anggota gereja tersebut. Demikian informasi dari Yayasan Kardinal Kung yang berpusat di Connecticut, AS.

Menekan Rohaniawan

Sebenarnya perlakuan buruk yang dilakukan pemerintah komunis China terhadap kaum agamawan, terutama Kristen, sudah berlangsung lama. “Christian Solidarity Worldwide” melaporkan bahwa gereja-gereja menangis karena di China tidak ada kebebasan beragama dan pemerintah tidak peduli dengan situasi yang dihadapi oleh orang-orang Kristen di sana.

Penangkapan orang-orang Kristen sering terjadi disertai dengan penyiksaan. Mereka menceritakan bagaimana mereka dipukuli dengan tongkat, digantung dari atap dan diikat dalam posisi yang sangat menyakitkan. Ratusan orang Kristen ditahan di kamp-kamp kerja paksa di China, dan sebagian dari mereka dibebaskan bila mereka dapat membayar denda yang sangat tinggi. (World Evangelical Fellowship (WEF) Januari 2001)

Sebagai contoh, Yan Weiping (33th), seorang pendeta bawah tanah China, saat sedang memimpin sebuah kebaktian di sebuah rumah pribadi di Beijing tiba-tiba polisi menerobos masuk dan menyeretnya pergi. Beberapa jam kemudian, tubuhnya yang penuh luka-luka ditemukan tergeletak di sebuah jalan di Beijing.

Yayasan Cardinal Kung, sebuah organisasi yang berpusat di Amerika Serikat, telah menuduh pemerintah China membunuhnya. Hal tersebut berlanjut pada pertengahan bulan Mei, Wang Qing, seorang anggota seminari dari Provinsi Hubei, telah dipukuli, digantung pada tangannya selama tiga hari, dan dipaksa minum cairan kotor yang menyebabkan ia menderita sakit pencernaan.

Terakhir, ketika Presiden Amerika Serikat George W. Bush mengunjungi China, Liu Feng Gang dan 47 penganut Kristen yang berkumpul di sebuah panti wreda di Xu Yong Hai, ditangkap dan dibawa ke kantor polisi ( 13 Oktober 2003).

Selain penyiksaan, komunis China juga menyeret para anggota gereja ke pengadilan. Komisi HAM PBB melaporkan pada  29 Desember 2001, lima anggota gereja di China selatan yakni; Gong Shengliang, Li Ying, Xu Fuming, Hu Yong dan Gong Bangkun, diberitakan dihukum mati oleh Pengadilan Rakyat Tingkat Menengah di Kota Jingmen dengan tuduhan menyebarkan ajaran sesat dan melanggar hukum.

Penghancuran terhadap gereja-gereja juga sering dilakukan, terutama di wilayah China tenggara. Menurut data yang ada, pemerintah komunis China selama tahun 2000 telah menghancurkan sebanyak 450 tempat-tempat ibadah “yang tidak memiliki izin”. Jenis intimidasi ini telah menyebabkan penduduk yang lemah imannya menyangkali kekristenannya.

Gerakan Bawah Tanah
Pandangan umum bahwa kebanyakan orang China beragama Budha ternyata salah. Ada sejumlah agama dan kepercayaan yang berkembang di negeri ini antara lain: Konfusianisme, Taoisme, Buddhisme, Islam, Kristen, Nichiren Shoshu dan sebagainya. Dahulu kepercayaan lama seperti Taoisme, Konfusianisme, dan Buddhisme memang sangat dominan. Setelah Partai Komunis berkuasa, agama dan berbagai kepercayaan dibabat habis.

Selama Revolusi Kebudayaan pada tahun 1966-1976, pimpinan komunis Mao Zedong telah menggerakkan jutaan Pengawal Merah untuk menghancurkan kuil-kuil Budha dan Konfusius, memenjarakan para biksu, biarawan dan ilmuwan, serta menghapus semua agama dan nilai-nilai budaya tradisional nonkomunis. Diharapkan Revolusi Kebudayaan bisa mengganti seluruh nilai lama dan membangun sebuah peradaban baru komunisme.

Konsep agama sebagai candu masyarakat ditanamkan pada generasi muda, sehingga atheisme menjadi subur. Pemerintah China melarang keras pendidikan agama bagi anak dan remaja. Data statistik baru menunjukkan penduduk yang tidak beragama (atheis) mencapai 59,1%, sedangkan 27% beragama Tao dan Konghuchu, 6% Kristen, 3% Buddha, 2,4% penganut animisme, 2,4% beragama Islam, dan kepercayaan lainnya 1%.

Di bawah tekanan yang berat itu, kaum agamawan hanya bisa bergerak di bawah tanah. Kini, berkat masuknya kaum misionaris terutama dari kalangan gereja, sekarang sudah mulai berkembang agama dari Barat seperti Protestan dan Katholik. Kerinduan akan spiritualisme yang membuat agama ini tidak terlalu sulit masuk ke negeri ini. Kebanyakan anak muda China dan generasi yang berpendidikan tertarik dengan agama dan konsep ketuhanan, pembaharuan dan kebangkitan agama ini dianggap telah melahirkan unsur-unsur liberal dan toleransi. Prinsip-prinsip inilah yang disukai mereka.

Semenjak tahun 1984, Project Partner menjadi sarana bagi para pendeta China untuk mengabarkan Injil kepada penduduk di sana. Mereka terutama melayani penduduk yang tinggal di pedesaan dan di wilayah-wilayah pegunungan yang sulit dijangkau. Pelayanan ini telah berhasil mengenalkan ratusan ribu penduduk yang sama sekali belum pernah mendengar nama Yesus. Bahkan sejak 1988, lebih dari 20 juta Alkitab telah dicetak di China.

Pendeta Deci Su, Kepala Sekolah East China Theological Seminary di Shanghai dan Sekretaris Umum China Christian Council, menyatakan bahwa gereja Protestan di China adalah salah satu gereja yang berkembang paling cepat di dunia. Gereja-gereja ini mempunyai 10-12 juta anggota, 17 kali lebih banyak daripada 5 dekade yang lalu. Ada sekitar 1.600 pelayan Tuhan bagi sekitar 12 juta orang Kristen di China. Sebuah kelompok Injili memperkirakan di tiga provinsi saja jumlah orang Kristen telah meningkat dari 212.000 menjadi lebih dari 6,5 juta, dan mungkin sebanyak 9 juta. Di sebuah kotamadya, jumlahnya meningkat dari 20.000 menjadi 335.000 dalam 15 tahun terakhir.

Dilaporkan juga sebuah gerakan gereja perumahan bawah tanah yang beranggotakan 1 juta orang Kristen pada 2000 telah memiliki 1.000 orang yang melayani penuh waktu, yang didukung oleh 36.400 sukarelawan. Pada beberapa tahun terakhir ini, sekitar 4,3 juta orang telah menjadi Kristen. Gereja-gereja baru didirikan setiap hari.

Perkembangan gereja yang semakin meningkat inilah yang membuat komunis China ketakutan. Seperti halnya ketakutan komunis China di bawah kendali kelompok Jiang Zemin terhadap perkembangan Falun Gong yang begitu pesat sejak 1992, sehingga latihan kultivasi ini dilarang pada 1999, dan para praktisinya ditangkap, dijebloskan ke penjara, disiksa hingga tewas. Pemerintah China memang tidak memberikan kebebasan terhadap agama dan bentuk kepercayaan lainnya untuk berkembang di negeri itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: